REFORMASI PENDIDIKAN

Ditulis 25 Maret 2010 oleh sulaimaninstitute
Kategori: Uncategorized

Tags: ,


A. Latar Belakang Masalah.
Sejak kekuasaan Orde Baru tumbang pada Mei 1998 hingga saat ini kondisi Indonesia masih dalam keadaan belum menentu meskipun upaya pembaharuan sudah sering kali dilakukan oleh berbagai pihak.1 Sistem pendidikan yang ada dirasakan masih sentralistik, dengan strategi makro yang sulit menyentuh kebutuhan riil masyarakat karena memang mereka tidak dilibatkan.2
Sistem pendidikan yang sentralistik hanya akan menghasilkan otoriterisme, menjadikan lembaga-lembaga sekolah sebagai pencetak robot-robot tanpa mampu mengembangkan kreativitas. Selanjutnya yang ada hanyalah kepatuhan dan keseragaman yang sangat jauh dari bobot profesional, berangkat dari beberapa hal di atas maka reformasi sangat diperlukan. Reformasi merupakan istilah yang populer dan menjadi kata kunci dalam membenahi seluruh tatanan hidup bangsa dan negara di tanah air tercinta ini, termasuk reformasi di bidang pendidikan.
Dalam pendidikan, reformasi bukanlah langkah ahir namun reformasi harus segera diimplementasikan dan diiringi dengan upaya revitalisasi pendidikan Islam yang sekian lama telah dinanti oleh segenap umat. Istilah itu menunjukkan bahwa pendidikan Islam yang dulu pernah jaya kini mengalami kemandulan harus kembali dipertajam pelaksanaannya seimbang dengan sistem pendidikan nasional. Seiring dengan reformasi pembaharuan pendidikan harus menggambarkan satu sistem pendidikan yang demokratis, konsisten, dan kontinyu serta komprehensif. Pendidikan yang ada harus menggiring ke arah terbentuknya manusia yang berkualitas yang mampu membangun negara dan diri dengan penuh tanggung jawab.
Pada era reformasi ini masyarakat Indonesia ingin mewujudkan perubahan dalam segala aspek kehidupan. Masyarakat sangat membutuhkan satu pola pendidikan yang mampu memberi jawaban atas segala kemelut yang tengah dihadapi, tentu saja keinginan ini tidak mudah untuk di wujudkan, mengingat kondisi geografis Indonesia dan kultur yang sangat beragam apalagi hal itu disertai dengan masa transisi yang sedang dihadapi, bangsa Indonesia masih dalam pencarian jati diri serta berupaya membenahi tatanan program yang ada, dan menggantinya dengan kebijakan baru yang mengarah kepada terwujudnya pendidikan yang lebih merakyat dan mampu memberdayakan individu.
Selanjutnya Pendidikan yang dikembangkan hendaknya yang berbasis pada masyarakat, yang lebih mengarah kepada pemberdayaaan perekonomian daerah dan disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Dalam hal pengaturan pendidikan hendaknya dikembalikan kepada sekolah yang mengelola pendidikan tersebut, pola pendidikan seperti inilah yang disebut sebagai pendidikan yang berbasis sekolah.3 Dilihat dari pungsinya jelas sekali pendidikan sangat penting dalam peningkatan mutu dan kualitas sumber daya manusia baik dalam penguasaan ilmu agama maupun teknologi serta tetap menjaga sikap moral dengan tetap menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama. Secara singkat dapat dikatakan pendidikan berfungsi membina dan mempersiapkan anak didik yang berilmu, beriman serta tetap menjaga sikap moral. Dalam rangka mewujudkan fungsi idealnya, pendidikan harus selalu mengorientasikan diri dengan kebutuhan masyarakat dan mampu mengimbangi zaman yang senantiasa maju berkembang. Perkembangan pembangunan akan menimbulkan berbagai dampak bagi kehidupan oleh karena itu pendidikan harus dapat menjadi jembatan dalam mengatasi dampak kemajuan tersebut.
Reformasi masih belum menunjukkan hasil meskipun Indonesia telah lama memulai pembangunan dan dapat mencapai kemajuan dalam beberapa segi, namun secara kualitas pendidikan Indonesia masih perlu diperbaiki. Untuk itulah tiada alternatif lain kecuali harus senantiasa lahir keinginan dan niat baik dari berbagai kalangan untuk membaharui keadaan dan kualitas pendidikan, agar Indonesia tetap survive di tengah pertarungan ekonomi, sosial, budaya dan teknologi internasional yang makin kompetitif.
Kondisi Indonesia yang hingga sekarang masih belum stabil, diiringi dengan isu upaya reformasi seakan sudah mati,4 jelas menunjukkan masih ada beberapa pola pendidikan kita yang mengadopsi sistem pendidikan warisan kolonial atau masa orde baru.5 Untuk itulah reformasi pendidikan penting diimplementasikan, sebab pendidikan sangat erat kaitannya dengan aspek-aspek lain seperti sistem politik pemerintahan dan penyelenggaraan negara begitu pula para penyelenggara negara dan politik sangat menentukan dan berpengaruh pada dunia dan keberadaan pendidikan, what you want in the state, you must put into the school.6 Untuk mewujudkan reformasi dalam pendidikan mungkin ada beberapa paradigma yang perlu dirubah, diganti atau tetap dipertahankan dalam prakteknya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat Indonesia.

Mukjizat Rahim Ibu

Ditulis 12 Juni 2012 oleh sulaimaninstitute
Kategori: Hikmah, keluarga, perempuan

Tags: , ,

Makhluk hidup bersel satu yang tak terhitung jumlahnya mendiami bumi kita. Semua makhluk bersel satu ini berkembang biak dengan membelah diri, dan membentuk salinan yang sama seperti diri mereka sendiri ketika pembelahan ini terjadi.

Embrio yang berkembang dalam rahim ibu juga memulai hidupnya sebagai makhluk bersel satu, dan sel ini memperbanyak diri dengan cara membelah diri, dengan kata lain membuat salinan dirinya sendiri.

Dalam kondisi ini, tanpa adanya perencanaan khusus, sel-sel yang akan membentuk bayi yang belum lahir ini akan memiliki bentuk yang sama. Dan apabila ini terjadi, maka yang akhirnya muncul bukanlah wujud manusia, melainkan gumpalan daging tak berbentuk. Tapi ini tidaklah terjadi karena sel-sel tersebut membelah dan memperbanyak diri bukan tanpa pengawasan.

Sel yang Sama Membentuk Organ yang Berbeda
Sperma dan sel telur bertemu, dan kemudian bersatu membentuk sel tunggal yang disebut zigot. Satu sel tunggal ini merupakan cikal-bakal manusia. Sel tunggal ini kemudian membelah dan memperbanyak diri.

Beberapa minggu setelah penyatuan sperma dan telur ini, sel-sel yang terbentuk mulai tumbuh berbeda satu sama lain dengan mengikuti perintah rahasia yang diberikan kepada mereka. Sungguh sebuah keajaiban besar: sel-sel tanpa kecerdasan ini mulai membentuk organ dalam, rangka, dan otak.

Sel-sel otak mulai terbentuk pada dua celah kecil di salah satu ujung embrio. Sel-sel otak akan berkembang biak dengan cepat di sini. Sebagai hasilnya, bayi akan memiliki sekitar sepuluh milyar sel otak. Ketika pembentukan sel-sel otak tengah berlangsung, seratus ribu sel baru ditambahkan pada kumpulan sel ini setiap menitnya.

Masing-masing sel baru yang terbentuk berperilaku seolah-olah tahu di mana ia harus menempatkan diri, dan dengan sel mana saja ia harus membuat sambungan. Setiap sel menemukan tempatnya masing-masing. Dari jumlah kemungkinan sambungan yang tak terbatas, ia mampu menyambungkan diri dengan sel yang tepat.

Terdapat seratus triliun sambungan dalam otak manusia. Agar sel-sel otak dapat membuat trilyunan sambungan ini dengan tepat, mereka harus menunjukkan kecerdasan yang jauh melebihi tingkat kecerdasan manusia. Padahal sel tidak memiliki kecerdasan sama sekali.

Bahkan tidak hanya sel otak, setiap sel yang membelah dan memperbanyak diri pada embrio pergi dari tempat pertama kali ia terbentuk, dan langsung menuju ke titik yang harus ia tempati. Setiap sel menemukan tempat yang telah ditetapkan untuknya, dan dengan sel manapun mereka harus membentuk sambungan, mereka akan mengerjakannya.
***

Lalu, siapakah yang menjadikan sel-sel yang tak memiliki akal pikiran tersebut mengikuti rencana cerdas ini? Profesor Cevat Babuna, mantan dekan Fakultas Kedokteran, Ginekologi dan Kebidanan, Universitas Istanbul, Turki, berkomentar:

Bagaimana semua sel yang sama persis ini bergerak menuju tempat yang sama sekali berbeda, seolah-olah mereka secara mendadak menerima perintah dari suatu tempat, dan berusaha agar benar-benar terbentuk organ-organ yang sungguh berbeda? Hal ini jelas menunjukkan bahwa sel yang identik ini, yang tidak mengetahui apa yang akan mereka kerjakan, yang memiliki genetika dan DNA yang sama, tiba-tiba menerima perintah dari suatu tempat, sebagian dari mereka membentuk otak, sebagian membentuk hati, dan sebagian yang lain membentuk organ yang lain lagi.

Proses pembentukan dalam rahim ibu berlangsung terus tanpa henti. Sejumlah sel yang mengalami perubahan, tiba-tiba saja mulai mengembang dan mengkerut. Setelah itu, ratusan ribu sel ini berdatangan dan kemudian saling bergabung membentuk jantung. Organ ini akan terus-menerus berdenyut seumur hidup.

Hal yang serupa terjadi pada pembentukan pembuluh darah. Sel-sel pembuluh darah bergabung satu sama lain dan membentuk sambungan di antara mereka. Bagaimana sel-sel ini mengetahui bahwa mereka harus membentuk pembuluh darah, dan bagaimana mereka melakukannya? Ini adalah satu di antara beragam pertanyaan yang belum terpecahkan oleh ilmu pengetahuan.

Sel-sel pembuluh ini akhirnya berhasil membuat sistem tabung yang sempurna, tanpa retakan atau lubang padanya. Permukaan bagian dalam pembuluh darah ini mulus bagaikan dibuat oleh tangan yang ahli. Sistem pembuluh darah yang sempurna tersebut akan mengalirkan darah ke seluruh bagian tubuh bayi. Jaringan pembuluh darah memiliki panjang lebih dari empat puluh ribu kilometer. Ini hampir menyamai panjang keliling bumi.

Perkembangan dalam perut ibu berlangsung tanpa henti. Pada minggu kelima tangan dan kaki embrio mulai terlihat. Benjolan ini sebentar lagi akan menjadi lengan. Beberapa sel kemudian mulai membentuk tangan. Tetapi sebentar lagi, sebagian dari sel-sel pembentuk tangan embrio tersebut akan melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ribuan sel ini melakukan bunuh diri massal.

Mengapa sel-sel ini membunuh diri mereka sendiri? Kematian ini memiliki tujuan yang amat penting. Bangkai-bangkai sel yang mati di sepanjang garis tertentu ini diperlukan untuk pembentukan jari-jemari tangan. Sel-sel lain memakan sel-sel mati tersebut, akibatnya celah-celah kosong terbentuk di daerah ini. Celah-celah kosong tersebut adalah celah di antara jari-jari kita.

Akan tetapi, mengapa ribuan sel mengorbankan dirinya seperti ini? Bagaimana dapat terjadi, sebuah sel membunuh dirinya sendiri agar bayi dapat memiliki jari-jari pada saatnya nanti? Bagaimana sel tersebut tahu bahwa kematiannya adalah untuk tujuan tertentu? Semua ini sekali lagi menunjukkan bahwa semua sel penyusun manusia ini diberi petunjuk oleh Allah.

Pada tahap ini, sejumlah sel mulai membentuk kaki. Sel-sel tersebut tidak mengetahui bahwa embrio akan harus berjalan di dunia luar. Tapi mereka tetap saja membuat kaki dan telapaknya untuk embrio.

 

***
Ketika embrio berumur empat minggu, dua lubang terbentuk pada bagian wajahnya, masing-masing terletak pada tiap sisi kepala embrio. Mata akan terbentuk di kedua lubang ini pada minggu keenam. Sel-sel tersebut bekerja dalam sebuah perencanaan yang sulit dipercaya selama beberapa bulan, dan satu demi satu membentuk bagian-bagian berbeda yang menyusun mata.

Sebagian sel membentuk kornea, sebagian pupil, dan sebagian yang lain membentuk lensa. Masing-masing sel berhenti ketika mencapai batas akhir dari daerah yang harus dibentuknya. Pada akhirnya, mata, yang mengandung empat puluh komponen yang berbeda, terbentuk dengan sempurna tanpa cacat.
Dengan cara demikian, mata yang diakui sebagai kamera paling sempurna di dunia, muncul menjadi ada dari sebuah ketiadaan di dalam perut ibu. Perlu dipahami bahwa manusia yang bakal lahir ini akan membuka matanya ke dunia yang berwarna-warni, dan mata yang sesuai untuk tugas ini telah dibuat.

Suara di dunia luar yang akan didengar oleh bayi yang belum lahir juga telah diperhitungkan dalam pembentukan seorang manusia dalam rahim. Telinga yang akan mendengarkan segala suara tersebut juga dibentuk dalam perut ibu. Sel-sel tersebut membentuk alat penerima suara terbaik di dunia.

Semua uraian ini mengingatkan kita bahwa penglihatan dan pendengaran adalah nikmat besar yang Allah berikan kepada kita. Allah menerangkan hal ini dalam Alquran sebagaimana berikut:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl, 16:78)

Penciptaan Kedua
Berbagai peristiwa yang telah dikisahkan dalam tulisan ini dialami oleh semua orang di dunia. Setiap manusia dipancarkan ke rahim sebagai sebuah sel sperma yang kemudian bersatu dengan sel telur, dan kemudian memulai kehidupan sebagai sel tunggal. Semua ini terjadi karena adanya kondisi yang secara khusus diciptakan di tempat tersebut. Bahkan sebelum manusia mulai mengetahui keberadaan dirinya sendiri, Allah telah memberi bentuk pada tubuh mereka, dan menciptakan manusia normal dari sebuah sel tunggal.

Adalah kewajiban bagi setiap orang di dunia untuk merenungkan kenyataan ini. Dan kewajiban Anda adalah untuk memikirkan bagaimana anda lahir ke dunia ini, dan kemudian bersyukur kepada Allah.

Jangan lupa bahwa Tuhan kita, yang telah menciptakan tubuh kita sekali, akan mencipta kita lagi setelah kematian kita, dan akan mempertanyakan segala nikmat yang telah diberikan-Nya kepada kita. Hal ini amatlah mudah bagi-Nya.

Mereka yang melupakan penciptaan diri mereka sendiri dan mengingkari kehidupan akhirat, benar-benar telah tertipu. Allah berfirman tentang orang-orang ini dalam Alquran:

”Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata. Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya pada kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yaasiin, 36:77-79)

Sumber: harunyahya.com

Ditulis 11 Juni 2012 oleh sulaimaninstitute
Kategori: Uncategorized

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Wahdat al-Wujud In the View of Syekh Yusuf al-Makassari

Ditulis 1 November 2011 oleh sulaimaninstitute
Kategori: Uncategorized

A. Introduction
Since the early 17th century, Islam has spread completely in almost all regions of South Sulawesi where were still fragmented in several kingdoms such as Gowa-Tallo, Bone, Luwu, Soppeng, Wajo, Mandar, Sidendreng Rappang, and some small kingdoms.
Islam that was the first time introduced and spread in those regions by three Ulama from Minangkabau was mystical oriented (tasawwuf), besides Fiqh with mazhab oriented. It might be understandable since the general inclination of Islam disseminated in East at that time was colored with tasawwuf teaching after the fall of Bagdad in Mongol’s hand in 1258. Therefore, muslims who studied Islam at that time tended to pay their attentions to tarekat, tasawwuf teaching, and fiqh especially syafi’i school.
Syekh Yusuf (1626-1699) who will be major concern of this paper is one of ulama of Gowa kingdom who was born and grew up in such condition. As the product of his era, it is no surprising if he became expert in fiqh of Syafi’I school, tasawwuf and tarekat. However, his name became more famous as a great sufi and he is highly venerated in South-Sulawesi as the father of Khalwatiah order. Almost all of his adventures in seeking knowledge were spent to learn and deepen mystical order of various schools such as: Qadiriyyah, Ba’lawiyyah, Naksyabandiyah, Syattariyyah, Ahmadiyyah, Suhrawardiyyah, Kabrutiyyah, Maduriyyah, Muhammadiyyah, Madyaniyyah, Kawabiyyah, and Khalwatiyyah. For the last order, his teacher gave him honorific title “Taj al-Khalwati Hidayat Allah.”
In this paper, the writer only attempts to focus on Syekh yusuf’s view of Wahdat al-Wujud which is by no means associated with Ibn ‘Arabi, the father of such concept. It is interesting to study his view on this controversial concept since he was generally assumed by his followers as Sunni Sufi. However, in fact, in some of his works, he seems to partly accept Wahdat al-Wujud for certain extent.
B. Short Biography of Syekh Yusuf al-Makassari
The first written source which reveals the life of Syekh Yusuf Makassar is the traditional book of history belongs to Makassarese-buginese, that is the so-called “Lontara”. There are three Lontara which inform much of his life, namely lontara Tallo, lontara Gowa and lontara Bilangngang. It was the three lontara considered to very reliable in tracing Riwawayana Tuanta Salamaka ri Gowa (the history of our safe master in Gowa, i.e. Syekh Yusuf al-Makassar). Besides, oral tradition which is famous among Buginese-Makassarese people in South Sulawesi could also tell us such history.
According to “Lontara Bilangngang”, the heritage of the twin kingdoms, Gowa-Tallo, Syekh Yusuf was born on 3 July 1626 M coinciding with 8 Syawal 1036 H. The story of his birth was told in oral tradition in Buginese-Makassarese society and it become agreement among them. This fact indicates that his birth was 20 years after Gowa and Tallo kingdoms being Islamized by an Ulama from Minangkabau, namely Abdul Kadir Khatib Tunggal or popularly called Dato’ri Bandang.
As an ordinary human, he was born on the earth through his father and mother. As stated in Lontara Riwaya’na Tuanta Salama ri Gowa, his father is Galarrang Moncongloe, a brother in one mother line of the king of Gowa Imanga’rangi Daeng Manrabia or Popularly known as Sultan Alauddin, the first king who converted to Islam and declared Islam as the formal religion of his kingdom in 1603. His Mother is Aminah binti Damapang Ko’mara, who is descendant of noble family from the Tallo kingdom, the twin kingdom of Gowa.
However, according to hasyiyat fi al-Kitab al-Anba’ fi I’rab la Ilaha illa Allah, one of syekh yusuf’s works stated that his father is Abdullah, so Prof. Hamka decides that his father’s name is Abdullah. Besides, oral tradition inherited by his descendants informs that His father is Abdullah Khaidir. Yet, the latter name still becomes controversy in common people since some regard that he is the prophet Khaidir. Nonetheless, the geneology of his descendants which is inherited by generations can convince us that his father is Gallarang Moncongloe, then Islamized as Abdullah Khaidir.
The life of Syekh Yusuf was popular up to now in four places or countries; they are Makassar (South Sulwesi), Banten (West Java), Ceylon (Sri Langka), and Cape Town (South Africa) since he spent much of his life at those places. In Ceylon and South Africa, he was even regarded as the first who put foundations of the existing Moslem community and as the father of several Moslem communities in south Africa who struggled to realize unity against oppression and ethnical differences.
During his childhood, he spent with learning to read al-Qur’an and was taught how to practice Islam in daily life. After being able to read al-Qur’an and ready to study further, his father sent him to pondok pesantren Bontoala to study Islamic knowledge and linguistic means such as: Nahw, Sharf, Balaghah, Ma’ani and ‘Ilm al-Mantiq. Afterwards, Syekh Yusuf pursued his study in pondok Cikoang under the teaching of Syekh Jalaluddin al-Aidid. Because of his intelligence in following Majlis, he was then suggested by his teachers to continue his study in Jazirah Arabia.
Having adventured in Middle-East for around twenty years to study Islam, he returned to his hometown. Although there is oral story stated that he never go home, this story can not be accepted because we do not get any strong reasons and historical fact for evidence. Yet, it should be noted that after returning to Nusantara, Syekh Yusuf became the great warrior who always precipitated rebellions against the Dutch either when he was in Makassar, Banten, Ceylon, and South Africa. Wherever he was, he often dessiminated Da’wah Islamiyyah and called upon Jihad fi Sabilillah.
Syekh Yusuf was also popular as the prolific writer of tasawwuf works either in Makkassarese, Bugis, Arabic, Javanese, and Arabic. His works written in Arabic to mention some as follow:
1. al-Barakat al-Sailaniyyah
2. Bidayat al-Mubtadi’
3. al-Fawaih al-Yusufiyyah
4. Hashiyah in Kitab al-Anba’
5. Kaifiyyat al-Munghi
6. Matalib al-Salikin
7. al-Nafhat al-sailaniyyah
8. Qurrat al-‘Ain
9. Sirr al-Asrar
10. Sura
11. Taj al-Asrar
12. Zubdat al-Asrar
13. Fath Kaifiyyat al-Dzikr
14. Dafal-Bala’
15. Hazhihi Fawaid ‘Azima Dzikr La Ilaha illa Allah
16. Muqaddimat al-Fawaid allati ma la budda min al-‘Aqaid
17. Tahsil al-Inayah wa al-Hidayah
18. Risalah Ghayat al-Ikhtishar wa Nihayat al-Intizar
19. Tuhfat al-Amr fi Fadilat adz-Dzikr
20. Tuhfat al-Abrar li Ahl al-Asrar
21. al-Munjiyya ‘an Madarrat al-Hijaiba

Syekh Yusuf passed away in 22 Zulqaidah 1109 H coinciding with 23 May 1699 M. in his seclusion, Zandvliet at the age of 73 years old. He was buried in sandy hill of Fasle Bay, not far from his residence. His tomb now was seen as ‘sacred’ and believed as the holy place. His tomb was completed with other buildings, including the tombs of his four students who also struggled for Islam in South Africa.
C. Wahdatul Wujud in the View of Syekh Yusuf al-Makassary
It is widely acknowledged that the founder of wahdat al-wujud is the outstanding sufi, Ibn Arabi, who was born in Murcia, Andalusia in 560 H/1165 M and passed away in Damascus in 683 H/1240 M. Albeit the term “Wahdat al-Wujud” can not be found in his works, he always made statements that lead to such idea.
One of his works, Futuhat al-Makkiyyah, in which he wrote much about his amazing spiritual experiences that marked with many signs indicate that he has reached the level of kasyf when he was still young. Despite his works he wrote are more symbolic, he acquired his knowledge through the process of ‘opening’ (Kasyf).
It is hard to precisely understand Ibnu ‘Arabi’s concept of Wahdatul Wujud, but the main point is that there is no being/existence (wujud) except God; only one wujud, namely God. Anything except God is nothing in itself; it is merely the manifestation of God. Universe has no wujud itself except borrowing wujud comes from God. God (al-Haqq) and alkhalq (universe) are one but different.
In terms of the concept of Wahdat al-Wujud, Syekh Yusuf elaborated it in his message (risalah) Matalib al-Salikin. In introduction, he explains actually that risalah were the notes he wrote during his participation in majlis under his teacher Syekh Abdul Karim Al-Lahure, one of the leaders of Naqsabandiyah order and the famous Ulama in that era. Syekh yusuf notes that one should necessarily learn three things in order to complete his knowledge, namely ma’rifah, tauhid, and ibadah. The aforementioned kinds of knowledge cannot be separated with one another since they are illustrated as a tree, tauhid as the root, ma’rifah as the branch and the leaf, and lastly ibadah as the fruit.
In explaining the meaning of tauhid, he devides it into two parts, tauhid Wahdat al-Wujud and tauhid that can be understood by common Moslems. Syekh Yusuf did not strictly put one or both tauhid under priority, because according to him, the ability of human to understand tauhid is different with one another. Therefore, everyone is able to understand the concept of tauhid in accordance with his ability.
Commenting the concept of Wahdat al-Wujud, he argues that this kind of tauhid is only believed by some sufi. In his view, basically there is no ‘being’ (maujud) in ghaib and syahadah, in form (surah) and meaning (ma’na), in exoteric and esoteric, except in one existence (wujud), one essence and one substance. Syekh Yusuf illustrated this explanation like different parts of human body with its spirit itself. Similarly, as he said, the relation between God and creatures like the relation between human body and its spirit. It means that human spirit does not only exist (istiqrar) in one part of his body, but it covers all parts of his body. Likewise, God does not only exist (istiqrar) in one creature, but He covers all creatures.
In the context of essence unity and the characteristic (sifat) of God, Syekh Yusuf explains that both are one unity that is impossible to be separated. It is more likely the same with the nature of human who has body and spirit, as long as he or she is still alive, there is no separation at all. It seems from the explanation above that the concept of Wahdat al-Wujud according to Syekh Yusuf is not exactly the same with that addressed to Ibnu ‘Arabi since the latter stated: “know that Allah is one in unity, it is impossible if the one hulul to thing, or the thing hulul to Him, or He unites with a thing”.
Ibnu ‘Arabi asserted that it is impossible if the qadim One can become a place for the jadid (new) or take place in jadid. The new existence and qadim existence are interlinked with one another on the bounding of idhafah and law, not the bounding between one existence with the other one, since it is impossible if God can unite with His creature in the one level (martabat).
If one compares between Ibnu ‘Arabi’s statements and Syekh Yusuf’s interpretation on Wahdat al-Wujud, it will be apparent that Ibn ‘Arabi’s concept is more complicated and vulnerable to be misleading. It was Ibnu Arabi entitled as the father of Wahdat al-Wujud in tasawwuf world because he the first composed such concept more completely and this influenced much the latter sufi and scholars. That is why his thought up to now still becomes controversial among Moslem thinkers.
It is more probably that Syekh Yusuf did not directly refer this matter to Ibnu ‘Arabi’s writings especially Futuhat al-Makkiyyah and fushus al-Hikam. He might merely rest on the interpretations of Wahdat al-Wujud which were developed in his era through his teachers. Nevertheless, we can find in his writings focusing on the essence of universe existence that have slight similarities with Ibnu ‘Arabi’s statements in his book Fusus al-Hikam such as: “actually the existence of universe is equal to non-existence, likes the existence of shadow. The existence of shadow is not the reality; in fact it is non-physic in the form (surah) of existence.”
This statement is almost the same with that of Ibn ‘Arabi in Fushus al-Hikam: “know that anything that is called as “except al-Haqq” or the so-called as universe, if it is addressed to al-Haqq (Allah), it might be like the human’s shadow. Universe is the shadow of God, and He is the essence of addressing existence to universe since that shadow exists in reality without any doubt in belief.
It seems to me, from the explanation above, that the influence of Ibnu ‘Arabi on essence of al-wujud is quite dominant in Syekh Yusuf’s philosophy of tasawwuf. While the interpretation of Wahdat al-Wujud referred to Syekh Yusuf was obviously influenced by the thought trend expanded in his era. His interpretation in this case is much closer to idea of negating the existence at all except the existence of God.
Furthermore, in his works, we also can find the influence of Syekh Nuruddin ar-Raniri’s thought concerning the interpretation of Wahdat al-Wujud. It might be due to his acquaintance with him in Aceh before travel to Middle-East for seeking knowledge. The works of ar-Raniri he read improved hid horizon especially his criticism toward those misunderstood the concept of Wahdat al-Wujud.
There are some terms of ar-Raniri which is also used by Syekh Yusuf in explaining the meaning of wujud and Wahdat al-Wujud in his works such as: hakiki, majazy, muqayyad. Mazha, zill and so on. This may indicate that he was impressed by Wahdat al-Wujud delivered by ar-Raniry.
Wahdat al-Wujud expressed by Syekh Yusuf only mentioned once in his risalah Mathalib a-Salikin. Even he makes a new term, namely Wahdah Samadiyyah which means one meaning to express the sense of creature’s togetherness with God in that can not be reached by human understanding except God himself, who knows the essence of such togetherness . However, it may be felt by those who perform ibadah sincerely and continually.
Based on the explanations above, the writer can formulate that Syekh Yusuf in elaborating Wahdat al-Wujud still holds firmly manhaj ahl Ahl Sunnah wa al-Jama’ah. He treats Muhkamat verses on Tauhid as the foundation of aqidah, while Mutasyabihat verses, he understood them without ta’wil and render the essence and the meaning to God. He is very careful in interpreting sufi’s views relating to Wahdat al-Wujud. Therefore, he did not label his tasawwuf teaching as Wahdat al-Wujud even more hulul and ittihad.
Nevertheless, in the context of relation between creature and his God through ibadah, he used the terms ihatah and ma’iyyah derived from al-Qur’an. He formulated both terms in one concept which he called Wahdah Samadiyyah. This concept, as I mentioned before, is the sense of togetherness of God with his creatures, and this can be felt by anyone who devotes himself to God.
D. Conclusion
It is undeniable that Syekh yusuf al-Makassari is the great ulama in 17th century who got involved in coloring the Islamic thoughts in Indonesia, notably tasawwuf and lots of his works he produced during his life. On the basis of the elucidations above, we can draw a conclusion that he is typical ulama that is very careful in interpreting sufi’s view in relation to Wahdat al-Wujud. Although he was influenced by Ibnu ‘Araby’s concept, he did not become the extreme follower of Ibnu ‘Arabi since he did not label it as Wahdat al-Wujud. Instead, he uses his own terms ihatah and ma’iyyah for the context of relation between God and Human. Both terms were formulated into one concept, namely Wahdat as-Samadiyyah. This concept does not concern on unity between God and Human in essence and substance (zat), but the sense of togetherness with God.

Bibliography

Abu Hamid, Syekh Yusuf Tajul Khalwati:Satu Kajian Antropologi, Tesis Doktor Falsafah, Universitas Hasanuddin Makassar, 1990
Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah an Kepulauan Nusantara Abad 17 dan 18: Melacak akar-Akar Pemikiran Islam di Indonesia, Bandung ; Mizan, 1994
Chittick, William C., Imajinal World, Ibn.al-Arabi and The Problem of Religious Diversity. Indonesian translation. Surabaya; Risalah Gusti, 2001
Galigo, Syamsul Bahri Andi, Syekh Yusuf Makassar dan Pemikiran Tasawufnya, Tesis Doktor Falsafah, Universitas Kebangsaan, 1998
Hamka, Sejarah Umat Islam, Cet. II, Jakarta : Bulan Bintang,1976
Ibnu Arabi, Muhyiddin, al-Futuhat al-Makkiyah, Tahqiq Ibarahim Madkur, Vol. III, Al Qahirah; Dar al-Ma’rifah, 1987
—————, Fusus al-Hikam, Beirut; Dar al-Kitab al-Arabi, 1946
Ismail, Taufik, Syekh Yusuf: seorang Ulama Sufi dan Pejuang, Jakarta ; Percetakan Obor, 1994
Kautsar Azhari Noer, Ibn Al-‘Arabi: Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan, Jakarta: Paramadina, 1995.
Mattulada, Islam in Sulawesi Selatan in Agama dan perubahan Sosial, Jakarta: Rajawali Press, 1996,
Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat: Pantulan sejarah Indonesia, Jakarta; LP3ES, 1987.
Tudjimah, Syekh Yusuf Makassar; Riwayat dan Ajarannya, Jakarta: UI-Press, 1997.http://sulaimanibrahim.blogspot.com/2010/04/wahdat-al-wujud-in-view-of-syekh-yusuf.html

PEMBAHARUAN DALAM ISLAM: (Arti dan Tujuan)

Ditulis 24 Maret 2010 oleh sulaimaninstitute
Kategori: Uncategorized

Tags: , ,

PEMBAHARUAN DALAM ISLAM

Oleh:Sulaiman Ibrahim

I. Pendahuluan

Abdurrahman al-Jabarti, ulama al-Azhar dan penulis sejarah, pada tahun 1799 berkunjung ke Institut d’Egypte; sebuah lembaga riset yang didirikan oleh Napoleon di Mesir. Ketika kembali dari kunjungan itu, al-Jabarti berkata, “saya lihat di sana benda-benda dan percobaan-percobaan ganjil yang menghasilkan hal-hal besar untuk dapat ditangkap oleh akal seperti yang ada pada kita”,[1] ungkapan al-Jabarti itu hanya merefleksikan kemunduran Islam berhadapan dengan Barat, tetapi juga menunjukkan bahwa aktivitas ilmiah dikalangan kaum muslim telah berhenti.

Kedatangan Napoleon di Mesir pada 1798 merupakan momentum penting dari perkembangan Islam. Kedatangan “penakluk dari Prancis” ini tidak hanya membuka mata kaum muslim akan apa yang dicapai oleh peradaban Barat di bidang sains dan teknologi, tetapi juga menandai awal kolonialisme Barat atas wilayah-wilayah Islam. Di antaranya akibat kontak itu di lingkuangan elit muslim –para penguasa dan kalangan cendikiawan- gerakan pembaharuan Islam kembali mempertoleh gairah. Kaum muslim semakin intensif dan bersemangat mengkaji kembali doktrin-doktrin dasar Islam khususnya dihadapkan pada kemajuan Barat. Kritik-kritik terhadap kondisi umum masyarakat Islam bermunculan, seruan berjihad semakin nyaring terdengar pandangan lama yang menganggap pintu ijtihad telah tertutup tidak hanya digugat, tetapi bahkan dianggap sebagai cermin dari keterbelakangan intelektual. Tidak heran jika taqlid mendapat kritik pedas dari kalangan pembaharu.

Meskipun kehadiran Barat telah memicu timbulnya respon dikalangan terpelajar muslim, kontak dengan Barat bukanlah satu-satunya aktor yang menyebabkan munculnya gerakan pembaruan dalam Islam. Di samping dalam batang tubuh doktrin doktrin Islam pembaharuan (tajdîd) merupakan sesuatu yang intern, kondisi objektif umat Islam sendiri yang secra umum ditandai oleh semakin memudarnya semangat keilmuan, kebekuan (jumûd), dibidang intelektual, dan berkembang pesatnya tradisi yang mendekati syirik, merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Aktor-faktor itu sekaligus juga merupakan tantangan kaum muslim, tidak hanya dalam tataran intelektuasl tetapi juga pada tataran empiris. Tantangan itu mencul di kalangan kaum muslim hampir secara serentak. Hal ini menyebabkan solusi yang diajukan sangat bervariasi, meski pada umumnya bertujuan sama, yaitu memajukan kembali Islam seperti pada masa keemasan dulu. Walaupun variasi itu tidak selamanya disebabkan oleh kondisi wilayah tempat munculnya gerakan pembaharuan, tetapi lebih-lebih merupakan implikasi dari penafsiran yang berbeda atas teks-teks suci, baik dari al-Qur’an maupun sunnah Nabi. Dalam tentang yang panjang, bentuk solusi ada yang merupakan penolakan yang membabi buta, dan adapula yang menerima mentah-mentah.

Makalah ini akan menjelaskan pengertian pembaharuan Islam, konsep yang digunakan. Dari uraian tentang masalah ini, variasi gerakan pembaharuan Islam akan tampak jelas. Ini tidak hanya akan bermanfaat bagi kajian-kajian selanjutnya, tetapi juga dalam upaya mencari titik temu gerakan pembaharuan Islam.

II. Pembahasan

a. Pengertian

Dalam bahasa Arab, gerakan pembaharuan Islam disebut tajdîd, secara harfiah tajdîd berarti pembaharuan dan pelakunya disebut mujaddid. Dalam pengertian itu, sejak awal sejarahnya, Islam sebenarnya telah memiliki tradisi pembaharuan karena ketika menemukan masalah baru, kaum muslim segera memberikan jawaban yang didasarkan atas doktrin-doktrin dasar kitab dan sunnah.[2] Rasulullah pernah mengisyaratkan bahwa “sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini (Islam) pada permulaan setiap abad orang-orang yang akan memperbaiki –memperbaharui- agamanya” (HR. Abu Daud). Meskipun demikian, istilah ini baru terkenal dan populer pada awal abad ke-18. tepatnya setelah munculnya gaung pemikiran dan gerakan pembaharuan Islam, menyusul kontak politik dan intelektual dengan Barat. Pada waktu itu, baik secvara politis maupun secara intelektual, Islam telah mengalami kemunduran, sedangkan Barat dianggap telah maju dan modern. Kondisi sosiologis seperti itu menyebabkan kaum elit muslim merasa perlu uintuk melakukan pembaharuan.

Sejajar dengan artinya, ruang lingkup tajdid meliputi wilayah yang sangat luas, bahkan boleh dikatakan hampir meliputi seluruh bidang kehidupan agama. Dalam sejarah, tajdid mengambil bentuk pemikiran dan gerakan. Secara umum tajdid  merupakan bentuk reaksi kaum muslim menghadapi sejumlah tantangan, baik yang bersifat internal naupun eksternal yang berkaitan dengan doktrin dan masalah-masalah sosial umat Islam.

Dari kata tajdid ini selanjutnya muncul istilah-istilah lain yang pada dasarnya lebih merupakan bentuk tajdid. Diantaranya adalah reformasi, purifikasi, modernisme dan sebagainya. Istilah yang bergam itu mengindikasikan bahwa hal itu terdapat variasi entah pada aspek metodologi, doktrin maupun solusi, dalam gerakan tajdid yang muncul di dunia Islam.

Kata Arab untuk “reformasi”, menunjukkan gerakan reformasi di dunia Islam pada tiga abad terakhir. Dalam konteks Islam modern, kata islah terutama merujuk pada “upaya”. Dalam kamus dan al-Qur’an, kata ini juga bermakna “rekonsiliasi”, artinya lawan penyimpangan,[3] dan kebangkitan. Kebangkitan mempunyai makna yang lebih kuat tentang penguatan imensi spritual dari iman dan prakteknya.[4]

Secara geneologis, gerakan pembaharuan Islam dapat ditelusuri akarnya pada doktrin Islam itu sendiri. Akan tetapi, ia mendapatkan momentum ketika Islam berhadapan dengan modernitas pada abad ke-19. pergumulan antara Islam dan modernitas yang berlangsung sejak Islam sebagai kekuatan politik mulai merosot pada abad ke-18 merupakan agenda yang menyita banyak energi dikalangan intelektual muslim. Kaitan agama dengan modernitas memang merupakan masalah yang pelik, lebih pelik dibanding dengan masalah-masalah dalam kehidupan lain. Hal ini karena agama doktrin yang bersifat absolut, kekal, tidak dapat diubah, dan mutlak benar;. Sementara pada saat yang sama perubahan dan perkembangan merupakan sifat dasar dan tuntutan modernitas atau lebih tepatnya lagi ilmu pengerahuan dan teknologi.[5]

Para pembaharu tidak hanya melihat Islam historis sudah tidak lagi sejalan dengan doktrin dasar Islam , tetapi juga tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Islam datang dengan prinsip dan nilai yan menghargai kemajuan. Kaum muslim tidak hanya dituntut taat beribadah, tetapi juga memiliki kemampuan di bidang ilmu pengetahuan. Tidak heran jika pada masa-masa formatifnya, kaum muslim dengan penuh gairah menyerap peradaban yang berkembangan disekelilingnya. Semangat seperti ini semakin lama kian menyusut akibat berbagai faktor perkembangan di dunia Islam itu sendiri, khususnya faktor merosotnya politik Islam. Dari kondisi inilah, para pembaharu ingin membengun cita ideal Islam yang tidak hanya maju, tetapi juga modern.

Dalam kaitannya dengan itulah, Harun Nasution,[6] mendefinisikan pembaharuan Islam sebagai “pikiran dan gerakan untuk menyesuaikan faham-faham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan oleh pengetahuan dan teknologi modern”. Dengan pengertian itu tampaknya Nasution mengidentik  pembaharuan Islam dengan modernitas Islam. Kata “modern” berasal dari kata latin modo, yang berarti “masa kini” atau “mutakhir[7]. Dari pengertian modern demikian definisi yang dikemukakan Nasution juga mengandung arti Islam harus mampu menjawab tantangan yang diakibatkan oleh perkembangan zaman.

Gerakan pembaharuan Islam memang pertama kali muncul pada abad modern. Meskipun demikian, sebelum masa modern ini keinginan untuk melakukan pembaharuan sebenarnya bukan sama sekali tidak ada. Di Arab Saudi keinginan itu dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1792) gerakan yang sejarah Islam dikenal dengan Wahabiyah ini, dilatarbelakangi oleh faktor interen kaum muslim, yaitu faham tauhid kaum awam yang pada waktu itu telah rusak oleh syirik dan bid’ah. Berkat bantuan oleh seorang kepala suku, Muhammad Ibn Su’ud (w.1765), gerakan ini memetik sukses gemilang. Kelak ibn Su’ud mendirikan kerajaan dengan menjadikan wahabi sebagai mazhab resmi negara. Selain pemurnian, Abd Wahab juga melontarkan pendapat tentang terbukanya pintu ijtihad dan boleh dilakukan oleh siapa saja asal bersandar kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Bagai bola salju, pendapat ini terus bergulir kewilayah Islam lainnya, bahkan terus berkembang dan berkumandang hingga hari ini.

Gerakan wahhabi ini selanjutnya disusul oleh gerakan-gerakan lain di afrika. Gerakan di Afrika ini pada umumnya bersifat sufistik. Meski demikian, bukan berarti sama sekali tanpa implikasi politik. Gerakan-gerakan ini bahkan berhasil mendirikan negara-negara Islam. Di antara para pemimpinnya yang terkenal adalah Usman bin Fonjo (1754-1817) di Negeria, Muhammad Ali al-Sanusi (1787) di Libya, dan muhammad Ahmas bin Abdullah (1843-1885) di Sudan, gerakannya dikenal; dengan sebutan “Mahdiyah”.

Gerakan-gerakan pra modern telah mewariskan kepada Islam modern suatu interpretasi ideologis terhadap Islam dan metode-metode gerakan serta organisasi. Kalau gerakan pramodern ini dipicu oleh masalah-masalah intern umat Islam, maka pada tahap berikutnya gerakan pembaharuan Islam lebih di dorong oleh sejumlah faktor eksternal. Antara lain, ancaman politik dari Barat atas Islam, religiokultural, dan kolonialisme.

Tanggapan para tokoh pembaharu di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terhadap dampak Barat terhadap masyarakat muslim terwujud dalam usaha yang sungguh-sunguh untuk menginterpretasi Islam dalam menghadapi perubahan kehidupan. Mereka menekankan sikap dinamis, luwes, dan adabtatif yang menjadi ciri kemajuan Islam pada zaman klasik (650-1250). Yang terutama mendapat tekanan khusus mereka adalah bidang hukum, pendidikan, sains. Selain itu mereka juga menekankan pembaharuan internal melalui reinterpretasi (ijtihad) dan adabtasi secara selektif (Islamisasi) ide-ide dan teknologi Barat. Dari sinilah kemudian dikenal konsep-konsep Barat seperti demokrasi, hak asasi, nasionalisme, dan sebagainya. Pembaharuan dalam Islam pada hakekatnya merupakan usaha kritik diri dari perjuangan untuk menegaskan bahwa Islam selalu relevan menghadapi situasi-situasi baru yang dihadapi oleh masyarakat Islam.

b. Bentuk Pembaharuan

Gerakan pembaharuan Islam telah melewati sejarah panjang. Secara historis, perkembangan pembaharuan Islam paling sedikit telah melewati empat tahap.[8] Keempatnya menyajikan model gerakan yang berbeda. Meski demikian, antara satu dengan lainnya dapat dikatakan sebuah keberlangsungan (continuity) daripada pergeseran dan perubahan yang terputus-putus. Hal ini karena gerakan pembaharuan Islam muncul bersamaan dengan fase-fase kemoderenan yang telah cukup lama melanda dunia, yaitu sejak pencerahan pada abad ke-18 dan terus berekspansi hingga sekarang.

Tahap-tahap gerakan pembaharuan Islam itu, dapat dideskripsikan sebagai berikut:[9] pertama, adalah tahap gerakan yang disebut-sebut dengan revalisme pramodernis (premodernism revivalish) atau disebut juga revivalis awal (early revivalish). Model gerakan ini timbul sebagai reaksi atas merosotnya moralitas kakum muslim. Waktu itu masyarakat Islam diliputi oleh kebekuan pemikiran karena terperangkap dalam pola tradisi yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Ciri pertama yang menandai gerakan yang bercorak revivalisme pramodernis ini adalah perhatian yang lebih mendalam dan saksama untuk melakukan transormasi secara mendasar guna mengatasi kemunduran moral dan sosial masyarakat Islam. Transformasi ini tentu saja menuntut adanya dasar-dasar yang kuat, baik dari segi argumentasi maupun kultural. Dasar yang kelak juga dijadikan slogan gerakan adalah “kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw”.

Reorientasi semacam ini tentu saja tidak hanya menghendaki adanya keharusan untuk melakukan purifikasi atas berbagai pandangan keagamaan. Lebih dari itu, pemikiran dan praktek-praktek yang diduga dapat menyebabkan kemunduran umat juga harus ditinjau kembali. Upaya purifikasi ini tidak hanya membutuhkan keberanian kaum intelektual muslim, tetapi juga mengharuskan adanya ijtihad. Tak heran jika seruan untuk membuka embali pintu ijtihad yang selama ini diasumsikan tertutup diserukan dengan gegap gempita oleh kaum pembaharu. Ciri lain gerakan ini, adalah digunakannya konsep jihad dengan sangat bergairah. Wahhabiyah berangkali merupakan contoh yang paling refresentatif untuk menggambarkan model gerakan ini dalam realitas.

Model kedua, dikenal dengan istilah modernisme klasik. Di sini pembaharuan Islam termanifestasikan dalam pembaharuan lembaga-lembaga pendidikan. Pilihan ini tampaknya didasari argumentasi bahwa lembaga pendidikan merupakan media yang paling efektif untuk mensosialisasikan gagasan-gagasan baru. Pendidikan juga merupakan media untuk “mencetak” generasi baru yang berwawasan luas dan rasional dalam memahami agama sehingga mampu menghadapi tantangan zaman. Model gerakan ini muncul bersamaan dengan penyebaran kolonialisme dan imperialisme Barat yang melanda hampir seluruh dunia Islam. Implikasinya, kaum pembaharu pada tahap ini mempergunakan ide-ide Barat sebagai ukuran kemajuan. Meskipun demikian, bukan berarti pembaru mengabaikan sumber-sumber Islam dalam bentuk seruan yang makin senter untuk kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

Pada tahap ini juga populer ungkapan yang mengatakan bahwa Barat maju karena mengambil kekayaan yang dipancarkan oleh al-Qur’an, sedangkan kaum muslim mundur karena meniggalkan ajaran-ajarannya sendiri. Dalam hubungan ini, model gerakan melancarkan reformasi sosial melalui pendidikan, mempersoalkan kembali peran wanita dalam masyarakat, dan melakukan pembaharuan politik melalui bentuk pemerintahan konstitusional dan perwakilan. Jelas pada tahap kedua ini, terjadi kombinasi-kombinasi yang coba dibuat antara tradisi Islam dengan corak lembaga-lembaga Barat seperti demokrasi, pendidikan wanita dan sebagainya. Meski kombinasi yang dilakukan itu tidak sepenuhnya berhasil, terutama oleh hambatan kolonialisme dan imprealisme yang tidak sepenuhnya menghendaki kebebasan gerakan pembaharuan. Mereka ingin mempertahankan status quo masyarakat Islam pada masa itu agar tetap dengan mudah dapat dikendalikan.

Tahap ketiga, gerakan pembaharuan Islam disebut revivalisme pascamodernis (posmodernist revivalist), atau disebut juga neorevivalist (new revivalist). Pada tahap itu kombinasi-kombinasi tertentu antara Islam dan Barat masih dicobakan. Bahkan ide-ide Barat, terutama di bidang sosial politik, sistem politik, maupun ekonomi, dikemas dengan istilah-istilah Islam. Gerakan –gerakan sosial dan politik yang merupakan aksentusi utama dari tahap ini mulai dilansir dalam bentuk dan cara yang lebih terorganisir. Sekolah dan universitas yang dianggap sebagai lembaga pendidikan modern –untuk dibedakan dengan madrasah yang tradisional- juga dikembangkan. Kaum terpelajar yang mencoba mengikuti pendidikan universitas Barat juga mulai bermunculan. Tak heran jika dalam tahap ini, mulai bermunculan pemikiran-pemikiran sekularistik yang agaknya akan merupakan benih bagi munculnya tahap berikutnya.

Sejalan dengan itu, pada tahap ini muncul pandangan dikalangan muslim, bahwa Islam di samping merupakan agama yang bersifat total, juga mengandung wawasan-wawasan, nilai-nilai dan petunjuk yang bersifat langgeng dan komplit meliputi semua bidang kehidupan. Tampaknya, pandangan ini merupakan respons terhadap kuatnya arus “pemBaratan” di kalangan kaum muslim. Tak heran jika salah satu corak tahap ini adalah memperlihatkan sikap apologi yang berlebihan terhadap Islam dan ajaran-ajarannya.

Dalam ketiga tahap itulah muncul gerakan tahap keempat yang disebut neomodernisme. Tahap ini sebenarnya masih dalam proses pencarian bentuknya. Meskipun demikian, Fazlur Rahman sebagai “pengibar bendera” neomodernisme menegaskan bahwa  gerakan ini dilancarkan berdasarkan krtik terhadap gerakan-gerakan terdahulu. Menurut Fazlur Rahman, gerakan-gerakan terdahulu hanya mengatasi tantangan Barat secara ad hoc. Karena mengambil begitu saja istilah Barat dan kemudian mengemasnya dengan simbol-simbol Islam tanpa disertai sikap kritis terhadap Barat dan warisan Islam. Dengan sikap kritis, baik terhadap Barat maupun warisan Islam sendiri, maka kaum muslim akan menemukan soludi bagi masa depannya.

III. Penutup

Kemunculan gerakan pembaharuan Islam tidak bisa dipisahkan dari kondisi obyektif kaum muslim di satu sisi dan tantangan Barat yang muncul di hadapan Islam di sisi lain. Dari sudut pandang ini, Islam memang menghadapi tantangan dari dua arah, yaitu dari dalam dan dari luar. Dengan demikian, Pengertian pembaharuan bukan hanya mencakup perbaikan kondisi obyektif masyarakat muslim, tetapi juga mencakup jawaban Islam atas tantangan modernitas.

Pembaharuan Islam juga mngindikasikan ketidakpuasan atas kondisi Islam historis yang berkembang sejak abad ke-18. oleh karena itu, kaum pembaru ingin membangun cita ideal Islam yang maju dan modern.

DAFTAR PUSTAKA

Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 1996

Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Penerbit Ichtiar Baru Van Hoeve, 1986), jilid V

John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam Modern, (terj.), Bandung: Penerbit Mizan, 2001, jilid 2, cet. I,

Harun Nasution dan Azyumarni azra, Perkembangan Modern dalam Islam, (Jakarta: Yayasan Obor, 1996),

David B.Guralnik, Websters New World Dictionary of the American Language, New York: Warners Book, 1987

Fazlur Rahman, “Islam; An Overview.” Dalam Elliade Mercia (ed.), The Encyclopedia of Religion, New York: Macurian Publising Hause, 1987


[1] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996) h. 31

[2]Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Penerbit Ichtiar Baru Van Hoeve, 1986), jilid V, h. 42

[3]John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford, Dunia Islam Modern, (terj.), (Bandung: Penerbit Mizan, 2001) jilid 2, cet. I, h.345. Reformasi dalam konteks Islam harus dibedakan dengan reformisme dalam Kristen. Kaum reformis Islam tidak mengklaim bahwa Islam itu sendiri perlu diperbarui, tetapi berbagai salah paham dan salah tafsir telah mendistorsi sebagian makna sejati dari nash-nash sehingga memunculkan sejumlah praktek keliru. Dengan demikian, reformisme Islam merupakan gerakan yang bertujuan mengembalikan Islam ke pesan aslinya, dengan tekanan teologis pada kesamaan.

[4]Ibid.,seruang kebangkitan dan pembaharuan muncul dari dikenalinya gejala keterbelakangan dan stagnasi pemikir agama pada masyarakat muslim pada abad –19.

[5]Harun Nasution dan Azyumarni azra, Perkembangan Modern dalam Islam, (Jakarta: Yayasan Obor, 1996), h. 1

[6]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, h. 11-12

[7]David B.Guralnik, Websters New World Dictionary of the American Language, (New York: Warners Book, 1987), h. 387

[8]Fazlur Rahman, “Islam; An Overview.” Dalam Elliade Mercia (ed.), The Encyclopedia of Religion, (New York: Macurian Publising Hause, 1987), h. 18

[9] Ibid.

MENCEGAH KORUPSI

Ditulis 24 Maret 2010 oleh sulaimaninstitute
Kategori: Uncategorized

Tags:

Oleh

Sulaiman Ibrahim

Salah satu kejahatan yang terjadi dan merajalela dalam kehidupan sosial-masyarakat bangsa Indonesia saat ini adalah korupsi. Korupsi bagaikan penyakit menular yang sangat ganas, yang sudah menjalar dan menular ke mana-mana, tidak hanya pada lapisan eksekutif, tetapi juga pada lapisan legislatif dan yudikatif, tidak hanya terjadi pada lapisan atas, tetapi juga pada lapisan bawah. Setiap saat dapat kita menyaksikan berita korupsi itu di media elektronik, media cetak, begitu hebat menyebaran penyakit korupsi ini di dalam masyarakat. Jaringannya bagaikan tidak akan terputuskan oleh alat apa pun, dan gelombangnya bagaikan tidak terbendung, dan jaringannya bagaikan benang kusut yang tidak mungkin dapat diketahui lagi mana ujung pangkalnya. Inilah mungkin bahasa yang pas untuk skandal bank Century

Sekarang sudah saatnya, masyarakat secara bersama-sama berupaya keras dengan sekuat tenaga untuk melakukan berbagai tindakan yang mungkin dilakukan untuk memutuskan mata rantai korupsi yang begitu kuat ini. Pelaku korupsi harus ditindak tegas, tanpa pandang bulu. Jaringan-jaringan yang dapat menjalin terjadinya korupsi harus segera diputus dan hal ini tidak mungkin dilakukan hanya oleh sekelompok orang yang namanya KPK atau ICW, tetapi harus dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat, mulai tingkat atas sampai tingkat bawah.

Upaya Pencegahan

Korupsi tidak boleh dibiarkan berjalan dan merajalela di dalam masyarakat. Ajaran agama memerintahkan umatnya untuk melakukan berbagai tindakan dalam mengatasi penyakit korupsi itu. Amar ma’rūf dan nahy munkar menjadi sangat efektif dalam mengatasi korupsi apabila upaya itu dilakukan melalui tahap-tahap: (1) Pencegahan diri dan keluarga dari tindakan korupsi. Pencegahan korupsi harus dimulai dari diri sendiri dengan keyakinan bahwa korupsi adalah penyakit masyarakat yang berbahaya bagi kehidupan masyarakat itu sendiri. Orangtua dalam keluarga berkewajiban untuk mencegah dirinya dari tindakan korupsi. Komitmen menjauhkan diri dari tindakan itu harus dikembangkan pula kepada anggota keluarga yang lain dengan menanamkan sebuah komitmen bahwa korupsi adalah penyakit kehidupan. (2) Keteladan pemimpin. Pemimpin adalah teladan bagi umatnya. Apa yang dilakukan pemimpin, maka hal itu pula yang dilakukan oleh yang dipimpin. Yang dipimpin selalu meniru hal-hal yang dilakukan pemimpinnya. Seorang pemimpin haruslah orang yang mempunyai komitmen mencegah diri dari korupsi secara internal, dan menunjukkan sikap anti terhadap korupsi, serta melakukan upaya-upaya pencegahan terjadinya korupsi di dalam masyarakat, baik secara kekerasan maupun secara lisa. Kalau pemimpin sudah menunjukkan keteladanan seperti itu, maka lambat laun korupsi yang kini merajalela itu dapat dicegah secara berangsung-angsur. (3) Tindakan tegas terhadap pelaku korupsi. Setiap pelaku korupsi harus ditindak tegas berdasarkan hukum dan peraturan yang berlaku, tanpa memandang bulu. Siapa pun yang melakukan tindakan demikian, termasuk pemimpin, penguasa, dan pelaksana serta penegak hukum harus ditindak tegas dan dihukum menurut hukum dan peraturan yang berlaku. Tindakan diskriminasi terhadap pelaku korupsi akan menimbulkan sikap apatis dari orang lain dalam ikut serta mencegah tindakan korupsi itu.

Kita menyadari bahwa penyakit korupsi di negara ini sudah menancap jauh ke dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Indikator yang paling kuat adalah merajalelanya penyakit ini di kalangan masyarakat. Hampir-hampir tidak diketahui lagi di mana ujung dan di mana pangkalnya, dan di mana harus dimulai melakukan pencegahan dan terapinya, dan di mana pula harus berakhir. Keadaan seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Para pemimpin dan penguasa harus melakukan tindakan memutuskan rantai tindakan korupsi ini, dengan memulai pertama-tama dari dirinya sendiri. Kalau hal ini dibiarkan terus, dikhawatirkan akan terjadi bencana yang amat dahsyat bagi bangsa dan negara ini, yang tidak hanya mengenai orang-orang yang melakukan tindakan korupsi, tetapi juga mereka yang tidak melakukan korupsi.

Ada dua hal terkait dengan korupsi yang dianggap penting untuk dikemukakan. Pertama adalah tentang munculnya mental korup. Kedua, cara mencegah korupsi, sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. Kedua hal tersebut saya rasa penting. Terkait dengan persoalan pertama, yaitu munculnya mental korup. Kiranya kita sepakat bahwa mental korup itu belum tentu dibawa oleh yang bersangkutan sejak mereka mendapatkan pekerjaan di kantor itu. Pada umumnya para pegawai baru menyandang idealisme yang tinggi. Di awal menerima status sebagai pegawai, mereka berniat akan bekerja sejujur dan sebaik mungkin. Akan tetapi ternyata, karena ada peluang, suasana yang memungkinkan, dan bahkan juga kultur yang mendukung, maka penyakit itu bersemi dan tumbuh. Akhirnya mental korup itu berkembang, apalagi tatkala mereka menempati tempat yang memungkinkan untuk melakukan kejahatan itu.  Karena itu, praktek korupsi harus dibabat karena di samping merugikan orang lain, juga sangat merugikan bagi pelakunya. Na’uzubillah !

Hello world!

Ditulis 24 Maret 2010 oleh sulaimaninstitute
Kategori: Uncategorized

Tags:

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!